PP GKPI BUKIT SION, BATAM




Shalom,
Pertama-tama kami mengucapkan Selamat Datang ke Blog kami yang sangat sederhana ini. Kami seluruh anggota Pemuda Pemudi Pos GKPI BUKIT SION Bida Ayu - Muka Kuning, Batam bersukur, karena kami masih dapat menggunakan media Blog ini sebagai sarana untuk publikasi setiap kegiatan-kegiatan kami. Blog ini kami tujukan khususnya untuk seluruh anggota Pemuda Pemudi Pos GKPI BUKIT SION, Batam dan umumnya untuk seluruh Pemuda Pemudi umat kristiani yang ada di seluruh dunia. Adapun content atau isi dari Blog kami ini adalah sebagian besar tentang kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan ke depan, dan juga kegiatan-kegiatan yang sudah kami lakukan sebelumnya. Disamping itu, Jadwal Pelayanan Ibadah Raya

Renungan Hari Ini, Sabtu, 06 Desember 2008

|

Menjadi Berkat Meskipun Terbatas
Markus 12 : 14 - 44

Seminggu Bersama Palungan - Hari ke 6

Pada malam hari ketika seseorang tinggal di luar rumah, angin dingin akan terasa sangat menusuk. Bagi orang dewasa mungkin hal ini masih bisa diatasi, ia masih bisa menahan rasa dingin tersebut. Tetapi tidak demikian dengan seorang bayi, apalagi bayi yang baru lahir. Bayi tersebut membutuhkan kehangatan dan rasa nyaman. Dapat dibayangkan bagaimana repotnya Maria yang melahirkan di kandang binatang tanpa persiapan perlengkapan bayi. Alkitab menjelaskan bahwa ia membungkus bayinya dengan lampin dan meletakkannya di dalam palungan.

Dalam keadaan yang normal, tak ada seorang ibu pun yang berpikir untuk meletakkan bayinya di tempat makanan ternak seperti palungan. Palungan yang kotor itu hanya digunakan sebagai tempat makanan binatang. Tetapi kondisi yang dihadapi Maria dan Yusuf saat Yesus lahir, telah mendorong naluri seorang ibu seperti Maria untuk melakukan sesuatu yang akan mendatangkan rasa hangat bagi bayinya. Meskipun biasanya palungan hanya dipakai sebagai tempat makanan ternak, tetapi Maria memilih benda kotor itu sebagai dipan bayinya. Maria tidak lagi membatasi fungsi palungan hanya sebagai tempat makanan ternak, tetapi ia menjadikan palungan itu sangat bernilai. Palungan yang umumnya hanya dipakai untuk menampung rerumputan dan makanan ternak lainnya, kini di dalamnya terbaring Sang Putera Allah yang akan menyelamatkan seisi dunia.

Palungan dapat menginspirasi setiap orang Kristen untuk menjadi berkat di dalam keterbatasannya. Sebagian orang tidak melakukan sesuatu yang sifatnya melayani Tuhan dan sesama, hanya karena merasa bahwa kemampuan serta apa yang ia miliki tidak begitu bernilai. Mari kita melihat bagaimana Yesus menilai dan mengomentari janda miskin yang memberikan persembahan dua peser, yaitu satu duit. Ini adalah mata uang Yahudi yang nilainya paling kecil. Banyak orang kaya memberi persembahan dalam jumlah besar tetapi Yesus berkata bahwa janda itu memberi lebih banyak dari semua orang yang sudah memberi. Sebuah ungkapan mengatakan, "Tidak terlalu penting seberapa besar seseorang telah memberi, yang penting berapa banyak yang tersisa setelah ia member." Sekalipun dari segi jumlah pemberian janda itu sangat kecil, tetapi apa yang ia berikan bernilai besar di mata Allah. Janda ini telah belajar menjadi berkat di dalam keterbatasannya, ia tidak menunggu harus memiliki banyak baru memberi.

Kita mendapatkan satu pelajaran penting lagi dari palungan, bahwa kesediaan kita untuk menjadi berkat di dalam keterbatasan, akan membawa pengaruh yang besar bagi pekerjaan Allah. Allah hanya menuntut kesediaan kita untuk memberikan apa yang dapat kita berikan. Jangan lupa bahwa mujizat di mana 5.000 orang laki-laki makan hingga kenyang terjadi karena seorang anak kecil bersedia memberi 5 roti dan 2 ikan yang ia miliki.

DOA

Aku rindu mempersembahkan hidupku agar Engkau pakai seturut kehendakMu Bapa. Berkatilah apa yang sudah kupersembahkan. Dalam nama Yesus aku mohon, Amin.

Kata Kata Bijak Hari Ini

Meskipun kecil, sebiji benih akan berlipat ganda jika ditaburkan dan membusuk jika hanya disimpan.

Mutiara Kata Hari Ini

Saya mencintai kehidupan, tetapi saya tidak takut akan kematian. Namun, sebisa mungkin saya lebih suka meninggal paling belakangan. (Georges Simenon)

Sumber: Manna Sorgawi (Mansor), Desember 2008, No. 129 Tahun XI

0 comments: